Jumat, 07 Maret 2014

arsip menuju kekuasaan dengan murah

Kekusaan politik ada ketika manusia mulai ada, bahkan ada  dalam mahluk hidup yang hidup berkelompok dimana mereka secara natural  akan  memunculkan pemimpin.Kelompok gajah akan memilih gajah yang layak jadi pemimpin,   Ketika manusia  berkelompok maka munculah pemimpin, mulai dari jumlah 3 orang , maka akan muncul seorang pemimpin. Pemimpin tersebut secara modern dapat diartikan mempunyai kekuasan politik, yaitu wewenang mengatur, memerintah dan para anggotanya setuju dengan itu.

Sejarah  awal manusia juga memberikan informasi pemimin suku lahir dari orang yang bisa mengatur sumber daya alam yang yang dibutuhkan untuk kepentingan bersama mereka. Pemimpin suku  di sungai nil lahir  dari orang yang mampu menjaga dan mengatur  air sungai nil bagi para  anggotanya di tengah persaingan dengan hewan hewan buas serta adanya anggota yang serakah.  Pemimpin suku pelaut atau nelayan datang dari orang yang mampu , kuat mengarungi samudra dan bahkab bisa memprediksi datangnya angin baik atau angin buruk, yang menguntungkan atau yang membahayakan.

Ketika manusia sudah dalam jumlah yang besar. kepimpinan kemudian menjadi sebuah lembaga kerajaan  atau sejenisnya.Raja adalah seseorang yang dianggap punya kemampuan lebih, entah benar  atau mitos ( pada awalnya memang  punya kemampuan lebih ). Regenerasi raja ,kerena mengingat kemampuan yang dianggap turunmenurun maka , tahta raja pun dilakukan turun temurun. Hal demikian juga dilakukan oleh para punggawanya, seperti patih, dan lembaga lainya, mereka melukannya dengan turun temurun. Orang lain yang ingin mempunyai kekusaan tersebut, tak akan bisa meraihnya. Kecuali satu , seperti apa yang dilakukan oleh Ken Arok kepada Tunggul ametung, atau seperti terjadi di sejarah China orang pindah ke suatu tempat sunyi  secara berkelompok , menyusun kekuatan , lalu kemudian menyerang  kerajaan di dekatnya, menang, lalu menjadi penguasa.

Ketika  kita berada di iklim demokrasi, seseorang ketika ingin berkuasa tidak perlu harus seperti jaman Ken Arok atau tradisi perebutan raja  dan wilayah. Dia cukup perlu memenangkan  suara dari sebuah Pemilu, untuk menjadi wakil rakyat, Bupati atau Presiden. Maka  disinilah murahnya demokrasi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar