Selasa, 15 April 2014

SELAMAT MENCOBLOS CALEG PILIHAN ANDA, mohon kejujuran penghitungan suara rakyat

Kepada seluruh warga masyarakat  dimanapun anda berada , kami mengucapkan selamat mencoblos  Caleg Pilihan anda, dan semoga aspirasi kita semua  dapat terwakili  oleh para Caleg tersebut.

Untuk lembaga terutama yang menyelenggarakan hitung cepat, keilmuan tidak perlu disembunyikan dan jangan dipleintir , mohon di jelaskan metode dan definisi margin error dan arti tingkat kepercayaan pada masyarakat.Masyarakat masih banyak yang bingung dengan ilmu statistik, tetapi jangan dipersulit memahaminya.  Kita sudah sering mengalami kesenjangan antar disiplin ilmu, sehingga ekonom kita hanya percaya pada industri pakaian, kaos kaki, sepatu, ( industi limbah, industri tukang jahit) , dan tidak dapat percaya pada industri berteknologi tinggi, seperti komputer, mesin, pengolahan logam, software. dll.

Untuk referensi sederhana,Margin Error sering disalah artikan sebagai selisih kesalahan hasil survei terhadap aktual, padahal pengertian yang betul tidak demikian. Untuk lebih detail bisa dibuka buku buku statistik yang banyak tersedia di toko buku dan perpustakaan.Secara sedehana, margin error  yaitu :
"The margin of error is a statistic expressing the amount of random sampling error in a survey's results".Margin error adalah ungkapan  statistik mengenai jumlah kesalahan  random sampling pada suatu hasil survei.

Sedangkan Tingkat kepercayaan , pengertian sederhanya bisa dilihat di
http://en.wikipedia.org/wiki/Confidence_interval 

yaitu :
In statistics, a confidence interval (CI) is a type of interval estimate of a population parameter and is used to indicate the reliability of an estimate. 

Jadi begitulah hasil survei adalah mengandung unsur estimasi =  perkiraan =  prediksi = ramalan.
Margin error dalam bahasa sederhana adalah  naik turunmya nilai hasil survei, bukan dibandingkan dengan nilai  nyata.
Meskipun demikian. survei sangat berguna karena memberikan gambaran  tapi itu bukan hasil nyata. Survei menggunakan sample , jadi tidak dilakukan ke setiap orang dalam anggota  populasi.Demikian juga dengan hitung cepat bila, tidak setiap TPS di seluruh Indonesia dihitung hasilnya, maka secara ilmu statistik, itu  tetap survei.

Referendum Warga Jakarta untuk Jokowi



Pencapresan Jokowi bagaimanapun juga menarik untuk dibicarakan. Sebenarnya di sini,bukan tempat  untuk membicarakan Jokowi,karena tema utamnya adalah Caleg( Calon Legislatif). Tetapi berhubung banyak pembicaraan warga yang berbicara tentang pencapresan Jokowi, dan itu juga dibicarakan oleh para Caleg, maka Pencapresan Jokowi ikut dibicarakan disini.

Pencapresan Jokowi oleh suatu partai ,ketika,Jokowi sedang dalam menjabat Gubernur DKI Jakarta pada periode pertama,tentu menimbulkan problem.Ini adalah hal yang sangat wajar. Jokowi baru satu setengah tahuun menjabat Gubernur ,pemimpin eksekutif  dari warga Jakarta,yang memilihnya dengan mencoblos gambar Joko Widodo.Biaya negara untuk pilkada ini juga besar. Joko Widodopun terpilih dan warga pun punya gubernur baru dan berharap banyak masalah  di  DKI   Jakarta dapat terselesaikan. 
Masalah mulai muncul ketika  PDIP mencapreskan Jokowi yang didasarkan atas hasil survei,bahwa elektabilitas Jokowi tinggi.Dan Joko Widodo pun menerima .Bu Mega yang biasanya bernada  pesimis terhadap hasil survei ,kali ini tidak. Padahal seperti diketahui,hasil survei banyak lembaga survei tentang pilkada DKI,juga banyak yang salah prediksi.  Yang perlu diingat survei tetaplah survei, survei beda dengan sensus yang meminta  jawaban setiap orang.Survei mengunakan sample atau contoh. Yang diberi pertanyaan adalah orang, yang bisa saja pendapatnya berubah , sesuai ruang dan waktu. Maka hasil survei adalah prediksi, ramalan.

Ada satu hal yang cukup penting adalah,kapasitas Ibu Mega yang menunjuk tugas peran baru  bagi Jokowi adalah   sebagai Ketua umum DPP PDIP.Ini beda dengan, bila yang menunjuk peran baru itu adalah Presiden yang sedang menjabat,misal sebagai duta besar. Presiden dipilih oleh seluruh rakyat Indonesia, sedangkan Gubernur dipilih oleh rakyat di propinsi tersebut dan Ketua Umum  partai dipilih oleh warga partai  itu melalui DPC atau DPD atau DPW. Jokowi yang menjadi gubernur karena dipilih oleh warga DKI Jakarta,lalu kemudian bersedia menjadi Capres atas penugasan dari Partai,maka hal ini bisa dianggap mengabaikan aspirasi warga yang bukan anggota PDIP.

Sesuai perjalanan  waktu opini terbelah.Pendapat warga Jakarta pun terbelah,karena Jokowi dalam kondisi tidak seperti ketika di  Solo ,dimana Jokowi sudah pernah menjabat 5 tahun ,lalu menjabat lagi dan baru mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI waktu itu. Ingkar  Janji menjadi dasar kuat yang tidak setuju Jokowi menjadi Capres.Dan ini sangat masuk akal. Etika kepemimpinan  demokrasi juga terabaiakan.

Satu solusi untuk mengatasi hal adalah diadakan referendum bagi warga Jakarta. Setiap orang warga Jakarta diminta pendapatnya,Maukah  rakyat Jakarta jika  Jokowi berhenti dari  jabatan gubernur saat ini dengan  masa tugas  tugas  yang belum selesai ?. Jika Jokowi mundur secara sepihak  maka hal ini bisa dianggap,  Jokowi meninggalkan tanggung jawab memimpin  DKI Jakarta.

Rabu, 02 April 2014

Info Berita: mass media dan keadilan


 Mass media atau pers  saat ini menjadi sorotan karena perannya yang memang besar
untuk mempengaruhi  opini publik. Pilihan berita , yang diberitakan dan yang tidak diberitakan, cara memberitakan , cara mengajukan pertanyaan, jawaban yang ditampilkan,foto atau gambar yang ditampilkan  semuanya berpotensi untuk membentuk opini masyarakat.

Untuk ini kami akan mengutip  opini Karni Ilyas di buku Karni Ilyas, Lahir untuk Berita,
"Kembali ke soal intervensi. Karni bertanya dengan nada menggugat,
pernahkah media memberitakan yang isinya menghantam pemiliknya?
Mana mungkin Tempo menghantam Goenawan Mohmmad atau Ciputra.
Mana mungkin Jakob Oetama dihantam Kompas.
RCTI menjelek-jelekkan Hary Tanoesoedibjo?
MetroTV memojokkan Surya Paloh? Trans TV (Trans7) menghantam Chairul Tanjung?
Apakah Anda melihat wajah Aburizal Bakrie tiap hari di tvOne?

Jadi kesimpulan saya ( Karni Ilyas ),
"di mana pun Anda, intervensi itu ada."
 Sekarang adalah bagaimana seorang jurnalis melakukan tawar-menawar untuk itu.
Jangan mimpilah media itu bisa streril dari intervensi.”

Sedangkan dari diskusi keadilan hukum dan media di Semarang, 2013,yang juga dihadiri  Karni Ilyas,
 didapat poin penting bahwa :
- Intervensi ke media bisa berasal dari pemilik, jajaran penguasa,
organisasi tempat wartawan bernaung , orang atau kelompok yang mempunyai modal kuat.
- sedangkan opini yang dikembangkan jurnalis bisa dipengaruhi oleh mainstream pemikiran yang sering digelutinya, tapi ini adalah manusiawi  seperti halnya juru foto yang tidak mungkin memotret seluruh fenomena alam, dia akan memfoto yang  sesuai  dengan  pertimbangannya, unsur personal tetap mempengaruhi hasil jepretan foto dari pemandangan alam tersebut.

Tetapi tentunya kita sebagai masyarakat tentu mendambakan mass media yang adil , jernih tidak terpengaruh apapun, meskipun itu sulit. Media massa  telah menjadi industri  yang keuntungan finansial  menjadi  tolak ukur  ,dan Adam Smyth menyebut indusrti adalah sebagai binatang ekonomi. Organ seperti KPI, Komisi Penyiaran Indonesia, tentu harus lebih mawas diri.

arsip , semua warga negara indonesia, berhak jadi pemantau pemilu

Pemilu  merupakan titk penting dalam perjalanan demokrasi , maka hal yang wajar bila semua warga negara mempunyal hak untuk memantau, apalagi semua warga negara yang mempunyai hak pilih dan hak dipilih serta  telah menggunakan hak pilihnya dengan mencoblos. Semunya  berhak mengawasi suara yang telah diberikan. Sebenarnya tidak diperlukan  ijin tentang hal itu, yang perlu  ijin adalah  pemantau luar negeri ,sedangkan organisasi besar dalam negeri cuma  pemberitahuan saja.
Sangat sering KPU atau KPUD ikut  bermental   birokrat yang gak mau dipantau langsung oleh rakyat pemilih, ini yang jadi masalah. Jika  transparan dan terbuka , tentu makin lancar dan menumbuhkan kepercayaan masyarakat.