Rabu, 02 April 2014
Info Berita: mass media dan keadilan
Mass media atau pers saat ini menjadi sorotan karena perannya yang memang besar
untuk mempengaruhi opini publik. Pilihan berita , yang diberitakan dan yang tidak diberitakan, cara memberitakan , cara mengajukan pertanyaan, jawaban yang ditampilkan,foto atau gambar yang ditampilkan semuanya berpotensi untuk membentuk opini masyarakat.
Untuk ini kami akan mengutip opini Karni Ilyas di buku Karni Ilyas, Lahir untuk Berita,
"Kembali ke soal intervensi. Karni bertanya dengan nada menggugat,
pernahkah media memberitakan yang isinya menghantam pemiliknya?
Mana mungkin Tempo menghantam Goenawan Mohmmad atau Ciputra.
Mana mungkin Jakob Oetama dihantam Kompas.
RCTI menjelek-jelekkan Hary Tanoesoedibjo?
MetroTV memojokkan Surya Paloh? Trans TV (Trans7) menghantam Chairul Tanjung?
Apakah Anda melihat wajah Aburizal Bakrie tiap hari di tvOne?
Jadi kesimpulan saya ( Karni Ilyas ),
"di mana pun Anda, intervensi itu ada."
Sekarang adalah bagaimana seorang jurnalis melakukan tawar-menawar untuk itu.
Jangan mimpilah media itu bisa streril dari intervensi.”
Sedangkan dari diskusi keadilan hukum dan media di Semarang, 2013,yang juga dihadiri Karni Ilyas,
didapat poin penting bahwa :
- Intervensi ke media bisa berasal dari pemilik, jajaran penguasa,
organisasi tempat wartawan bernaung , orang atau kelompok yang mempunyai modal kuat.
- sedangkan opini yang dikembangkan jurnalis bisa dipengaruhi oleh mainstream pemikiran yang sering digelutinya, tapi ini adalah manusiawi seperti halnya juru foto yang tidak mungkin memotret seluruh fenomena alam, dia akan memfoto yang sesuai dengan pertimbangannya, unsur personal tetap mempengaruhi hasil jepretan foto dari pemandangan alam tersebut.
Tetapi tentunya kita sebagai masyarakat tentu mendambakan mass media yang adil , jernih tidak terpengaruh apapun, meskipun itu sulit. Media massa telah menjadi industri yang keuntungan finansial menjadi tolak ukur ,dan Adam Smyth menyebut indusrti adalah sebagai binatang ekonomi. Organ seperti KPI, Komisi Penyiaran Indonesia, tentu harus lebih mawas diri.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar